Dramatari “Panggau Libau”: Patah-Patah mengalir

Suasana Covid 19 yang melanda dunia ternyata sangat mengganggu kehidupan manusia sejagat baik ekonomi, social, politik. Apakah benar ia memang penyakit yang betul betul misterius kebenarannya karena diciptakan demi memperbodoh manusia?. Penulis tidak berani berdiri di sebelah mana karena bukan peramal, dukun ilmu falak apa lagi ilmu-ilmu akademik. Jangan ditanyakan seniman-seniman yang bergantung nasib pada keadaan dan kreativitas untuk menjual hasil karya mereka, tentunya semuanya terkubur didalam mindar yang sekian lama mati lemas kerana kelamaan menunggu. Namun insan seni yang memiliki kekuatan jati diri selaku pegiat seni sepertinya tidak pernah mau kalah dan peduli akan kekangan serta tekanan keadaan yang ingin menahan seniman untuk terus berkarya walau dengan diam. Selaku orang yang peka akan dunia kreativitasnya, seniman terus memikirkan ruang dan peluang seperti falsafah air yang terus mengalir mencari ruang baru dan menembusi lobang-lobang kecil yang ingin menghalanginya untuk terus mengalir.

Anak muda asal Sabah Malaysia ini tidak memiliki gelar-gelar yang menghiasai namanya. Cukup sempurna nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Achai Kiran mencintai dunia tari sejak umurnya berumur sekitar 30an. Awal mengenali dunia tari sdr. Achai mulanya agak tergagap memahami tempo, ragam dan gaya tari-tarian tradisional etnik Sabah yang begitu beragam. Kata mereka yang berkuasa dan bijaksana, terdapat lebih 35 etnik di negeri Sabah, belum lagi sub etnik yang menjadikan jumlahnya pulahan dan menghampiri ratusan. Mungkin faktor itu juga mendorong Achai terlibat aktif menjadi penari untuk sekian lama, berjinak-jinak mencari tapak berkarya, baik sekedar pertunjukan cari makan, maupun acara pertandingan-pertandingan berstatus kecil-kecilan. Hasilnya cukup lumayan, dari yang belum punya nomor sehingga berbagai juara di pikulnya. Namanyapun semakin menjelit ke atas dan bisa terlihat dari kawasan dan lembah dimanapun.

Penulis mulai mengenali beliau melalui keterlibatannya di pertandingan-pertandingan tari kreasi baru yang di anjurkan oleh kerajaan negeri Sabah maupun swasta di sekitar Kota Kinabalu dan Labuan. Beliau memperlihatkan keunikannya dalam menafsir koreografi. Cukup menarik gerak tubuh penari yang menjadi transport idenya, musik yang dipilih bukan sekedar susunan beton, namun sebuah olahan yang berpijak pada nafas-nafas tradisi Sabah yang di sentuhnya dengan kreativitasnya yang tinggi. Terbaru saudara Achai menuangkan kreativitasnya di Youtube dengan menghasilkan sebuah dramatari berjudul Panggau Libau. Sebuah cerita yang berangkat dari budaya suku kaum Tidong yang terdapat di Kawasan daerah Tawau Sabah. Konon etnik Tidong ini serumpun dengan etnik Murut yang terdapat di Indonesia dan di Pedalaman Sabah. Etnik Tidong ini beragama Islam sedangkan etnik Murut banyaknya beragama Kristiani. Etnik Murut adalah sebahagian dari leluhur Dayak yang menjadi etnik terbesar di kepulauan Kalimantan. Pulau besar yang dihuni oleh tiga negara yaitu : Indonesia , Malaysia dan juga Negara Brunai Darusallam.

Legenda Panggau Libau mengisahkan : Di sebuah kampung kecil, terdapat suku etnik yang harmoni antara suku Dayak dan suku Tidung. Dipanjangkan cerita, suatu hari, seorang pemuda tersesat didalam hutan dan memasuki kawasan alam bunian yang tidak di kenalinya. Setiba di alam bunian, pemuda tersebut terpesona dengan keindahan alam ghaib dan digoda oleh puteri bunian yang menjadi penghuninya. Menurut kepercayaan orang dahulu “dunia bunian adalah tempat yang sama di mana manusia berdiri, hanya dimensi yang memisahkan mereka”. Pemuda tersebut hampir terbuai dengan kehidupan indah di alam bunian, namun pada waktu yang sama pemuda tersebut menyadari kalau dia bukan berada di alam yang nyata. Singkat cerita, pemuda itu tersebut berusaha keluar dan berjaya lepas dari alam bunian serta selamat pulang ke kampung halamannya .

Susunan Redaksi

DEWAN REDAKSI
Dr. Sal Murgiyanto
Yusuf Susilo Hartono
Jefriandi Usman
Atien Kisam
Achmad Basalamah

PIMPINAN REDAKSI
Agustina Rochyanti

REDAKTUR
Heru Joni Putra

PENINJAU
Dr.Nurwahidah, S.Pd, M.Hum
Dr.Madia Patra Ismar, S.Sn, M.Hum
Fawarti Gendra Nata Utami S.Sn., M.Sn.

KREATIF
Muh Ichsan

KONTRIBUTOR
Esha Tegar Putra
Dr. Drs, Peni Puspito, M.Hum
Yogi Hadiansyah, S.Pd, M.Pd
Lalu Dedi Purnawan, S.Pd
Edgar Freire
Manchu A. Syamrada
Suryana, S.Sn
Andi Tenri Lebbi, S.E
Peteriana Kobat
Nona Palalangan, S.Pd, M.Sn
Maharani Arnisanuari, S.Sn
Rini Widiastuti, S.Sn, M.Hum

Susunan Redaksi

DEWAN REDAKSI
Dr. Sal Murgiyanto
Yusuf Susilo Hartono
Jefriandi Usman
Atien Kisam
Achmad Basalamah

PIMPINAN REDAKSI
Agustina Rochyanti

REDAKTUR
Heru Joni Putra

PENINJAU
Dr.Nurwahidah, S.Pd, M.Hum
Dr.Madia Patra Ismar, S.Sn, M.Hum
Fawarti Gendra Nata Utami S.Sn., M.Sn.

KREATIF
Muh Ichsan

KONTRIBUTOR
Esha Tegar Putra
Dr. Drs, Peni Puspito, M.Hum
Yogi Hadiansyah, S.Pd, M.Pd
Lalu Dedi Purnawan, S.Pd
Edgar Freire
Manchu A. Syamrada
Suryana, S.Sn
Andi Tenri Lebbi, S.E
Peteriana Kobat
Nona Palalangan, S.Pd, M.Sn
Maharani Arnisanuari, S.Sn
Rini Widiastuti, S.Sn, M.Hum

ASETI