LIKURAI

Likurai adalah sebuah tarian yang khas dan unik yang tumbuh dan berkembang di wilayah Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT ). Mengapa likurai dikatakan unik? Sebab orang yang menarikan tari likurai selain sebagai penari sekaligus menjadi pengiring bagi dirinya sendiri tanpa diiringi oleh orang lain.

Nama tarian ini sebenarnya diambil dari kata “ Haliku “ atau “ meliuk-liukan badan sambil melihat dan memperhatikan “ , dan kata “ Rai “ atau “ Tanah “. Jadi likurai berarti berjalan meliuk-liukan badan sambil melihat atau memperhatikan tanah. Hal ini dibuktikan ketika para penari menarikan tari likurai, mereka wajib berjalan meliuk-liukan badan mengikuti irama tabuhan “ Tihar “ atau “ gendang kecil yang diapit “, sambil melihat atau memperhatikan tanah.

Ketika hendak menari ada orang yang bertindak sebagai loko motif penggeraknya. Orang itu yang harus menentukan pola bunyi dan gerak yang akan ditarikan.

Adapun makna yang tersirat dalam pementasan tari likurai yang nota bene merupakan tarian rakyat ini bahwa gerakan yang dibuat oleh kaum perempuan sebagai upaya bersama bahu membahu dengan kaum laki-laki melihat atau memperhatikan wilayah atau tanah mereka agar tidak jatuh ke tangan orang lai. Selain itu orang yang menjadi loko motif penggerak itu ibarat seorang pemimpin. Menjadi pemimpin harus memulai terlebih dahulu dan apabila kepemimpinannya akan harmonis ketika orang yang didepan meliuk ke kiri maka yang dibelakangpun harus ke kiri begitu pula sebaliknya.

Selain penari perempuan yang menabuh gendang kecil, harus dilengkapi dengan dua orang penari laki-laki sebagai makna bahwa kaum laki-laki wajib menjaga keutuhan wilayah atau tanah tempat tinggal mereka dari rongrongan orang lain dengan kata lain bahwa laki-laki Belu tidak rela sejengkal tanahpun jatuh ke tangan orang lain.

Likurai mempunyai pola gerak yang baku yakni meliukan badan ke kiri dan ke kanan sehingga gerakan tarian ini sangat monoton, dan Likuraipun mempunyai beberapa pola bunyi yang diturunkan secara turun temurun dan baku.

Seperti tarian lainnya yang ada diseluruh wilayah Nusantara, bahwa busana merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Busana untuk menarikan tari likurai adalah “ Tais “ atau kain tenunan asli dari Belu. Bagi masyarakat Kabupaten Belu, Tais atau tenun ikat merupakan sebuah lembaran Manuskrip yang tertulis bahasa simbol dan sarat akan nilai dan makna serta pesan – pesan moral yang perlu disampaikan kepada generasi berikutnya. Ada sebuah Ahan atau motif khusus yang hingga kini sudah jarang ditemukan yang pada zaman dahulu sering dipakai untuk menarikan tari likurai yakni : Ahan atau Motif Eduk. Motif ini bila dilihat secara teliti dan saksama maka akan terlihat dengan jelas seperti kulit ular piton. Motif ini sangat berkaitan erat dengan tari likurai. Bahwa pola lantai yang ditampilkan saat menarikan likurai secara massal, adalah berbanjar dan memanjang kebelakang dengan jumlah penari yang tidak ditentukan. Dari pola lantai ini, diceriterakan bahwa ketika menari likurai ibarat seekor ular piton raksasa yang sedang berjalan sehingga kepala ularnya tidak pernah berjalan lurus, namun akan berkelok-kelok yang ditiru oleh manusia dengan meliukan badan ke kiri dan ke kanan. Untuk melengkapinya maka busana yang dipakaipun harus motif Eduk tadi sehingga baik gerak, pola lantai dan busana menjadi satu kesatuan. Namun hingga kini busana yang dipakai sudah diperbolehkan untuk memakai motif yang lain.

Penyebaran tari likurai.

Kabupaten Belu merupakan salah satu Kabupaten yang berbatasan darat langsung dengan Negara Republica Democratica Timor Leste ( RDTL ). Sebagaimana kita ketahui bahwa warga negara Timor Leste dan warga Negara Indonesia yakni masyarakat kabupaten Belu mempunyai kesamaan Culture, sehingga tari likurai tidak saja ada di Belu namun penyebarannya hingga ke Timor Leste, Kabupaten Malaka, sebagian Kabupaten TTU dan TTS. Peristiwa penyebaran hingga kabupaten tetangga seperti TTU dan TTS itu disebabkan karena adanya migrasi dan kawin mawin sehingga setelah berkembang mereka melestarikan tarian dari daerah asalnya di tempat baru.

Pius Fahik
(Seniman Tari Atambua Belu/Anggota ASETI Atambua NTT )

Susunan Redaksi

DEWAN REDAKSI
Dr. Sal Murgiyanto
Yusuf Susilo Hartono
Jefriandi Usman
Atien Kisam
Achmad Basalamah

PIMPINAN REDAKSI
Agustina Rochyanti

REDAKTUR
Heru Joni Putra

PENINJAU
Dr.Nurwahidah, S.Pd, M.Hum
Dr.Madia Patra Ismar, S.Sn, M.Hum
Fawarti Gendra Nata Utami S.Sn., M.Sn.

KREATIF
Muh Ichsan

KONTRIBUTOR
Esha Tegar Putra
Dr. Drs, Peni Puspito, M.Hum
Yogi Hadiansyah, S.Pd, M.Pd
Lalu Dedi Purnawan, S.Pd
Edgar Freire
Manchu A. Syamrada
Suryana, S.Sn
Andi Tenri Lebbi, S.E
Peteriana Kobat
Nona Palalangan, S.Pd, M.Sn
Maharani Arnisanuari, S.Sn
Rini Widiastuti, S.Sn, M.Hum

Susunan Redaksi

DEWAN REDAKSI
Dr. Sal Murgiyanto
Yusuf Susilo Hartono
Jefriandi Usman
Atien Kisam
Achmad Basalamah

PIMPINAN REDAKSI
Agustina Rochyanti

REDAKTUR
Heru Joni Putra

PENINJAU
Dr.Nurwahidah, S.Pd, M.Hum
Dr.Madia Patra Ismar, S.Sn, M.Hum
Fawarti Gendra Nata Utami S.Sn., M.Sn.

KREATIF
Muh Ichsan

KONTRIBUTOR
Esha Tegar Putra
Dr. Drs, Peni Puspito, M.Hum
Yogi Hadiansyah, S.Pd, M.Pd
Lalu Dedi Purnawan, S.Pd
Edgar Freire
Manchu A. Syamrada
Suryana, S.Sn
Andi Tenri Lebbi, S.E
Peteriana Kobat
Nona Palalangan, S.Pd, M.Sn
Maharani Arnisanuari, S.Sn
Rini Widiastuti, S.Sn, M.Hum

ASETI