Penjelajahan Seni Masa Pandemi, Mengapa Tidak?

Apakah pandemi menghalangi sebuah proses kreativitas? Jawabannya bisa iya tetapi bisa juga tidak.

            Sebuah proses penjelajahan seni seharusnya bisa menemukan cara untuk senantiasa bergerak, seperti air yang  terus mengalir dan menemukan jalannya. Kalau medan kreativitas selama ini ada di dalam studio, ya alihkan ke alam terbuka, kalau biasanya dengan menggunakan orang banyak (penari, aktor) ya alihkan kepada diri sendiri atau mandiri (tunggal). Tentu saja, di samping mematuhi protokol kesehatan yang katanya rentan penularan virus kalau berkerumun.

            Tetapi, sebenarnya, di dalam proses seorang diri di alam terbuka, banyak hal positif yang  didapat, antara lain tubuh menjadi akrab bersentuhan dengan elemen alam (udara, tanah, air, pasir, batu atau pepohonan). Rangsangan kreativitas itu jauh lebih kuat di alam terbuka, terutama untuk olah vokal, kelenturan tubuh, sekaligus melatih daya tahan tubuh di bawah sinar matahari atau hujan.

            Di alam terbuka, kita bisa mengasah kepekaan diri dalam menghayati betapa tubuh ini teramat kecil dan betapa agungnya ciptaan Yang Maha Kuasa. Berikut ini penulis mencoba menyampaikan beberapa pengalaman penjelajahan seni lewat workshop, kolaborasi pentas di beberapa negara Eropa, terutama Inggris.

            Gabriel Rooth, seorang guru tari yang memiliki lima irama dalam mengolah gerak, melalui tutor Jacob Darling Khan, menyampaikan dalam sebuah workshop di sebuah studio tari di kota Bristol, Inggris.

            Apakah yang istimewa dari lima irama yang diperkenalkan pada dunia tari tersebut? Bagi kalangan penggiat seni tari di Indonesia barangkali tak terlalu istimewa. Artinya lima irama tersebut sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan cara penjelajahan seni. Namun demikian, lima irama tersebut nyaris jarang sekali menjadi media yang digunakan oleh sejumlah penari ataupun koreografer di Indonesia, disebabkan oleh beberapa hal, misalnya karya tari yang dilahirkan memang bukan merupakan karya tari yang bersifat “baru”.

            Karya tari yang banyak kita saksikan sekarang lebih sebagai pengulangan demi pengulangan. Dalam pengulangan seharusnya seorang penari dan koreografer dapat melakukan eksplorasi lebih intensif, misalnya dengan menggunakan lima irama yang diistilahkan oleh Gabriel Rooth.

            Lima irama itu adalah mengalir, patah-patah, gabungan dari mengalir dan patah-patah, mengalir seperti air merupakan gerak yang tak terputus atau melayang tanpa gravitasi seperti angin/udara. Dan apabila terjadi penyumbatan dalam gerakan tersebut, maka ia bisa berputar-putar meliuk-liuk untuk terus mencari ruang dan meneruskan gerakan tersebut.

            Gerakan patah-patah dapat dibagi dengan patah luar dan patah dalam, patah kecil dan patah besar. Pada bagian patah kecil, tentu hanya penari yang tahu, seberapa kecil patahan itu. Gabungan dari mengalir dan patah-patah ini merupakan media untuk mengangkat gerak lanjutan, yaitu Api. Percepatan gerak yang lebih dinamis dan disertai pengerahan tenaga adalah implementasi dari elemen api yang lebih bersifat destruktif/ merusak. Pada gerakan api terdapat luapan emosi, semacam klimaks. Sebuah pengerahan energi yang besar tetapi teratur untuk selanjutnya memasuki elemen tanah, ketenangan, harmoni. Semua itu sudah menjadi bagian dari latihan-latihan yang saya dan banyak koreografer lain lakukan, meskipun belum banyak yang membiasakan dalam sebuah penjelajahan seni.

            Selanjutnya, penjelajahan seni itu merupakan usaha untuk menemukan kenyataan-kenyataan yang terpendam atau banyak ditemukan realitas yang secara transparan kita lihat dalam kehidupan sehari hari. Di sini kita dituntut untuk menggali lebih dalam terhadap kekuatan-kekuatan personal kita yang tersembunyi. Banyak kita ketahui, tetapi lebih banyak  lagi yang tidak kita ketahui. Di sinilah fungsi utama dari penjelajahan seni itu sendiri.

            Seniman-seniman Eropa yang saya saksikan, lebih aktif membangun penjelajahan seninya. Dalam kerja mereka, muncul kesadaran perihal bagaimana seni bisa menjadi bagian integral dengan dunia kehidupan yang dilalui. Sehingga mereka menyebut tari sebagai kehidupan.

            Pertemuan seniman Eropa dengan seniman Asia, terkadang memang mengesankan atmosfir eksotika yang berlebihan. Tetapi di sisi lain muncul keingintahuan mereka terhadap hal-hal yang tersembunyi dari eksotika tersebut. Berbeda dengan cara pandang kita selama ini.

            Eksotika seni di antara seni-seni nusantara kita, lebih merupakan eksotika-eksotika mengubur kesepian, sepinya kehidupan sehari-hari yang lebih banyak tersembunyi dan sulit untuk diucapkan dengan kata-kata maupun bentuk ekspresi yang lainnya, sehingga seni menjadi semacam pelarian, dan seni kehilangan wilayah penjelajahannya.

            Red Earth Arts & Co yang berdomisili di kota Bighton, UK, merupakan kelompok seniman yang menciptakan pertunjukan-pertunjukan khusus dengan cara melibatkan penemuan-penemuan baru dari upacara upacara/ritual dalam kehidupan masyarakat urban, dengan menggunakan instalasi, patung, seni gerak, suara, air dan pyrotechnics. Di dalam beberapa proyeknya mereka sempat mengajak beberapa seniman dari Asia, Jepang, Cina dan Indonesia. Saya merasa beruntung bisa beberapa kali berkolaborasi dengan grup ini sejak tahun 1997 – 2005, antara lain Water Mark, Lewes (1997), The Subtle Realm adalah pertunjukan dengan mengangkat cerita Bima menemukan air prawitasari, dipentaskan The Hawth Amphi theatre, Crawley (1998). Kemudian Dark Matter yang dipentaskan keliling Inggris dan Perancis tahun (1999), Aquifer (2001) dan The Journey untuk Trafalgar Festival London 2005 dan The Vanishing Point yang lokasinya di selat yang memisahkan antara daratan Inggris dan Perancis. Birling Gap namanya.

            Beberapa seniman Red Earth yang terlibat antara lain Simon Pascou dan Caitlin Eastterby sebagai direcotor dan co-director sekaligus konseptor. Jony Earterby dan Ansuman Biswas berlaku sebagai pemusik. Martin Brown merupakan seorang arkeolog. Dave Statham, Mark Anderson, dan Lizzy Morrisey sebagai kru artistik.

            Apa yang terjadi di sini adalah sebuah penjelajahan seni yang luar biasa, artinya semua komponen seni dan  keterlibatan seniman betul-betul diperhitungkan dengan matang dalam kapasitas tematik yang luas dan dapat diterima sebagai realitas alam yang selalu mengalami penjelajahan manusia. Di sini manusia bertindak sebagai wilayah yang berada bersama-sama alam untuk mengungkapkan kenyataan yang seharusnya diperbuat oleh keduanya. Alam juga menjadi subyek sebagaimana manusia yang berlaku di dalamnya.

            Penjelajahan seni semacam ini merupakan sesuatu yang kita perlukan untuk mengetahui sejauh mana diri kita merupakan bagian yang  turut mencemari alam. Hubungan-hubungan historis dan kekuatan-kekuatan kedalaman batin bersatu dalam satu kesadaran yang tak terhingga.

            Kesenian tiba-tiba memberikan kesadaran yang lebih luas dari sebuah panggung yang dapat disaksikan oleh sejumlah penonton. Panggung dunia yang lahir dari sebuah kesadaran tidak pernah begitu saja menjadikan seorang seniman mengenali dirinya maupun alam sekitarnya. Pertunjukan yang beberapa menit atau jam itu, hanyalah salah satu dari sekian banyak impuls personal yang dapat dibangkitkan. Impuls personal itu hanya mungkin diolah memalui sesuatu yang serius dan tidak basa-basi.

            Akhirnya, saya ingin menyimpulkan sesuatu di sini. Penjelajahan seni yang selama ini kita kenal dalam latihan-latihan tari, barangkali lebih banyak menyimpan kepalsuan-kepalsuan diri kita sendiri. Diri kita yang bersih sekaligus kotor. Diri kita yang bercahaya sekaligus gelap gulita. Diri kita yang punya pengetahuan berlebih sekaligus mengalami keterbelakangan yang tidak dapat kita pungkiri. Semuanya lahir dari suatu pergaulan alam yang terkadang sulit dicari jalan keluarnya.

Dusun Krajan, Desa Condro, April 2021

Susunan Redaksi

DEWAN REDAKSI
Dr. Sal Murgiyanto
Yusuf Susilo Hartono
Jefriandi Usman
Atien Kisam
Achmad Basalamah

PIMPINAN REDAKSI
Agustina Rochyanti

REDAKTUR
Heru Joni Putra

PENINJAU
Dr.Nurwahidah, S.Pd, M.Hum
Dr.Madia Patra Ismar, S.Sn, M.Hum
Fawarti Gendra Nata Utami S.Sn., M.Sn.

KREATIF
Muh Ichsan

KONTRIBUTOR
Esha Tegar Putra
Dr. Drs, Peni Puspito, M.Hum
Yogi Hadiansyah, S.Pd, M.Pd
Lalu Dedi Purnawan, S.Pd
Edgar Freire
Manchu A. Syamrada
Suryana, S.Sn
Andi Tenri Lebbi, S.E
Peteriana Kobat
Nona Palalangan, S.Pd, M.Sn
Maharani Arnisanuari, S.Sn
Rini Widiastuti, S.Sn, M.Hum

Susunan Redaksi

DEWAN REDAKSI
Dr. Sal Murgiyanto
Yusuf Susilo Hartono
Jefriandi Usman
Atien Kisam
Achmad Basalamah

PIMPINAN REDAKSI
Agustina Rochyanti

REDAKTUR
Heru Joni Putra

PENINJAU
Dr.Nurwahidah, S.Pd, M.Hum
Dr.Madia Patra Ismar, S.Sn, M.Hum
Fawarti Gendra Nata Utami S.Sn., M.Sn.

KREATIF
Muh Ichsan

KONTRIBUTOR
Esha Tegar Putra
Dr. Drs, Peni Puspito, M.Hum
Yogi Hadiansyah, S.Pd, M.Pd
Lalu Dedi Purnawan, S.Pd
Edgar Freire
Manchu A. Syamrada
Suryana, S.Sn
Andi Tenri Lebbi, S.E
Peteriana Kobat
Nona Palalangan, S.Pd, M.Sn
Maharani Arnisanuari, S.Sn
Rini Widiastuti, S.Sn, M.Hum

ASETI