Sendratari Prang Senie

Sendratari Prang Senie merupakan sendratari yang diangkat berlatarbelakang perjuangan melawan Belanda pada kurun waktu 1902 – 1922. Tokoh utama perlawanan ini Aman Nyerang yang memimpin 7 orang selama dua puluh tahun di belantara Aceh.

Peteriana Kobat sebagai koreografer Prang Senie menggarap sendratari ini berdasarkan latar belakang cerita sebagai berikut:

Senie bearti sunyi atau tenang. Kosakata ini sekarang sudah punah. Prang Senie berarti perang dalam kesunyian. Pada 3 Oktober 1922, Kapten Jordan bersama 2 Brigade Marsose yang masih tersisa, kembali dari medan perang di hulu sungai Serbejadi, Lokop-Aceh Timur. Jordan membawa pedang bersama potongan tangan Aman Nyerang. Aman Nyerang melawan Belanda selama 20 tahun tidak terkalahkan atau tertangkap.

            Aman Nyerang berasal dari Kampung Jamat (Aceh Tengah). Ia seorang pemuda belia yang sangat menyayangi masyarakatnya. Bersama warga mereka membangun kampung, bercocok tanam, dan memanfatkan berbagai sumber daya alam untuk kehidupan. Adakalanya mereka memanfatkan aren sebagai gula atau sebagai sagu, atau berbagai tumbuhan lain di sekitarnya, termasuk hewan dan ikan.

            Kampung yang damai, warga yang saling menyayangi, mencintai, keluarga-keluarga yang rukun, dan para pemuda yang ceria. Ketentraman itu mendadak diresahkan dengan kabar kedatangan Belanda ke Tanoh Gayo. Aman Nyerang tidak rela melihat saudara-saudaranya terjajah di tanah merdeka. Bersama enam orang pasukannya, Aman Nyerang bergerilya di hutan Samar Kilang (Bener Meriah) hingga ke Lokop Serbejadi (Aceh Timur), menghadang Belanda untuk mendekati Jamat

            Sejak 1902 sampai 1916 Aman Nyerang membangun serangan dari kampung-kampung sekitar Samar kilang, Jamat, dan Lokop. Puncaknya pada tanggal 9-10 Agustus 1916, Aman Nyerang bersama Ulama Perempuan dari Wih Dusun dan Penghulu Mungkur menghadang Marsose di Kampung Serule selama 2 hari dua malam. Peristiwa ini disebut kebangkitan perlawanan Linge.

            Perlawanan Linge oleh Aman Nyerang membuat Belanda marah dan mendirikan bivak di Jamat dan Samar kilang. Masing-masing bivak dikawal sebanyak 2 Brigade. Setiap hari mereka menyiksa masyarakat untuk mencari informasi di mana keberadaan Aman Nyerang dan pasukannya. Anak dan Istri Aman Nyerang kerap mendapat siksaan dari Marsose.

            Dipenghujung tahun 1922, Kapten Jordan memimpin sekitar 2 Brigade (± 100 orang) Marsose mencari Aman Nyerang. Di hulu sungai Serbe Jadi Lokop, Aman Nyerang diserbu oleh 100 orang Marsose. Saat itu Aman Nyerang sedang tinggal sendiri di markasnya, Kapten Jordan melihat Aman Nyerang berperang bagaikan orang yang sedang menari-nari, di tengah desingan ratusan peluru yang menghujam punggungnya, Aman Nyerang berperang dengan sangat indah, dengan rencongnya, dengan pedangnya, dan dengan tombaknya. Meski akhirnya sebutir peluru menembus kepalanya.  Jordan memotong tangan Aman Nyerang yang mengenggam erat pedangnya, meski beliau telah Syahid. Pada tahun 2000, Jordan berwasiat pada putrinya agar mengembalikan pedang Aman Nyerang yang dibawanya 77 Tahun yang lalu dari hulu Sungai Serbe Jadi, Lokop Aceh Timur. Pada tahun 2003 Gubernur Aceh, Abdullah Puteh menerima pedang tersebut dan sekarang disimpan di Museum Aceh.

Susunan Redaksi

DEWAN REDAKSI
Dr. Sal Murgiyanto
Yusuf Susilo Hartono
Jefriandi Usman
Atien Kisam
Achmad Basalamah

PIMPINAN REDAKSI
Agustina Rochyanti

REDAKTUR
Heru Joni Putra

PENINJAU
Dr.Nurwahidah, S.Pd, M.Hum
Dr.Madia Patra Ismar, S.Sn, M.Hum
Fawarti Gendra Nata Utami S.Sn., M.Sn.

KREATIF
Muh Ichsan

KONTRIBUTOR
Esha Tegar Putra
Dr. Drs, Peni Puspito, M.Hum
Yogi Hadiansyah, S.Pd, M.Pd
Lalu Dedi Purnawan, S.Pd
Edgar Freire
Manchu A. Syamrada
Suryana, S.Sn
Andi Tenri Lebbi, S.E
Peteriana Kobat
Nona Palalangan, S.Pd, M.Sn
Maharani Arnisanuari, S.Sn
Rini Widiastuti, S.Sn, M.Hum

Susunan Redaksi

DEWAN REDAKSI
Dr. Sal Murgiyanto
Yusuf Susilo Hartono
Jefriandi Usman
Atien Kisam
Achmad Basalamah

PIMPINAN REDAKSI
Agustina Rochyanti

REDAKTUR
Heru Joni Putra

PENINJAU
Dr.Nurwahidah, S.Pd, M.Hum
Dr.Madia Patra Ismar, S.Sn, M.Hum
Fawarti Gendra Nata Utami S.Sn., M.Sn.

KREATIF
Muh Ichsan

KONTRIBUTOR
Esha Tegar Putra
Dr. Drs, Peni Puspito, M.Hum
Yogi Hadiansyah, S.Pd, M.Pd
Lalu Dedi Purnawan, S.Pd
Edgar Freire
Manchu A. Syamrada
Suryana, S.Sn
Andi Tenri Lebbi, S.E
Peteriana Kobat
Nona Palalangan, S.Pd, M.Sn
Maharani Arnisanuari, S.Sn
Rini Widiastuti, S.Sn, M.Hum

ASETI