REFOCUSING PAKARENA

Tari Pakarena adalah karya seni tradisi masyarakat Makassar yang menjadi ruang hidup diatara mitos dan realita. Pakarena menjadi gambaran kekuatan nilai, perjalanan waktu, sifat dan jati diri, jiwa yang melekat terekspresi dalam ketekunan, kesabaran, keterampilan, persahabatan, keterampilan, sekaligus gejolak dan ketenangan .

Foto oleh Agus Linting

Gerakan tari Pakarena merupakan ungkapan rasa keindahan yang diwujudkan sang penari dalam gerak sesuai dorongan suasana hatinya. Dinamikanya nampak pada gerakan tubuh, ayunan properti kipas dan selendang yang berpadu dalam gerak lamban, tenang nan terlihat anggun. Gerakan siku tangan tak pernah diangkat melampaui ketinggian bahu penarinya. Langkahnya pun digerakkan perlahan, tak pernah diangkat tinggi, hanya beberapa sentimeter diatas lantai hingga nyaris terlihat diseret. Seluruh gerak tetap terjaga meski musik gendang pengiring ditabuh bergemuruh serta tiupan pui-puiknya meliuk-liuk. Gerakan tari ini tanpa stylisasi yang dimaksudkan untuk menunjukkan atau menjelaskan arah, bentuk, emosi maupun simbolisasi.

Penari Pakarena pada aalnya tak pernah mengangkat pandangannya dari batas pandang nyaris hanya sejauh beberapa jengkal saja dari posisi mata kaki. Bukaan mata pun relatif tampak terpicing. Mengangkat wajah atau tersenyum saat menari di hadapan Sultan atau pun penonton lainnya dianggap melanggar kesopanan. Tak heran jika para penari Pakarena selalu nampak menyembunyikan senyum dibibirnya dibalik tabir kipas disepanjang pertunjukan. Durasi pertunjukan ditentukan oleh suasana saat pelaksanaan acara.

Nilai-nilai luhur tari Pakarena, dulu dijaga kuat oleh para anrong guru, sebut saja apa yang dilakukan anrongguru-maha guru ahli Pakarena pada masyarakat Bulutana, Malino, Gowa. Tari Pakarena dijaga oleh Mak Cidda disebagian besar usianya. Ia sungguh sangat pantas diganjar penghargaan sebagai Maestro Tari Pakarena Sulawesi Selatan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2011 silam. Mak Cidda kini telah berpulang. TAk jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Mak Coppong Daeng Rannu yang dikenal dengan tari Pakarena Iyolle’, dari Kampili Kabupaten Gowa. Ia menari hingga beusia renta, namun masih tetap nampak gemulai dan ber”isi” saat menarikan Pakarena Iyolle’. Lantaran kepiawaiannya dia lalu menjadi ikon dalam pertunjukan I Lagaligo yang disutradai oleh Robert Wilson membawanya melalang hingga ke manca negara. Kini Maccong pun telah berpulang.

Sejarah kebudayaan Makassar juga menginformasikan bagaimana kejadian dimasa tahun 1951 saat OSBM ( Organisasi Seni Budaya Makassar ) dipimpin Fachruddin Daeng Romo. Ia bersama Andi Nurhani Sapada ( Anida ) berusaha menggali kembali tari tradisi Pakarena dengan tujuan mengungkap dan mempelajari kembali tari Pakarena secara teratur untuk diajarkan kepada pelajar di kota Makassar serta meningkatkan kualitas tarian sesuai selera masyarakat. Mereka kemudian menuju daerah Polongbangkeng, Takalar menemui Anrong Pakarena Daeng Parancing. Tetapi usaha itu tidaklah menemukan hasil sebagaimana yang diharapkan. Tari Pakarena yang ditemuinya tidaklah berdasarkan pola dan hitungan sebagai dasar pegangan sehingga sulit dipelajari dan menghafalkannya. Karenanya tahun 1952 mereka mendatangkan Parancing bersama beberapa 4 penari remaja dan 3 pemusiknya ke rumah jalan Gowa Selatan 10 A Makassar ( kini jalan Jenderal Sudirman 66, Makassar). Setelah melalui proses adaptasi dicapai kesepakatan bersama, berbentuk Tari Pakarena-garapan baru, itulah penanda lahirnya Pakarena versi Anida. Beberapa perubahan yang signifikan dilakukan antara lain padangan mata yang sebelumnya hanya tertuju beberapa jengkal di lantai diperluas hingga 3 sampai 4 meter, meski tetap tidak diperkenankan melirik kian kemari. Sarung yang semula menutup seluruh kaki hingga menyulitkan dalam melakukan gerakan mulai dinaikkan hingga sebatas tumit untuk memberi kebebasan lebih bagi penari dalam bergerak. Juga durasi pertunjukan disesuaikan dari 25 menit hingga menjadi 10 menit saja.

Pada tahun 1954, kipas berbahan daun lontara yang menjadi asesori tidak lagi dipakai untuk menutupi wajah, tetapi lebih dibuka dan memberi kesempatan pada penonton untuk melihat kecantikan sang penari. Gerakan-gerakan yang semula diulang hingga tiga kali dikurangi menjadi satu kali saja. Ditambahkan Gerakan sitaklei dua babak dan penambahan tunrung plak pada demonstrasi Tunrung Pakanjara. Gerakan yang berupa tendangan halus di dorong ke depan lalu diletakkan tanpa menginjak sarung, maka lahirlah sebuah gerak langkah kaki baru yang dinamakan Renjang-renjangna. Bersamaan dengan gerak tersebut lahir pula musik iringan Tunrung Pasere.

Setelah puluhan tahun kemudian pembaruan tari Pakarena versi Anida senantiasa hadir dengan style estetikanya yang khas. Tidak ada perubahan yang radikal. Hanya Royong berganti dengan lagu Bunganna Ilang Kebo yang syairnya disusun oleh Mappaselleng Daeng Maggau. Kostum baju Bodo dari bahan katun diganti bahan sutera polos, warna yang semula hanya merah dan hijau disesuaikan dengan perkembangan zaman. Sedang sarungnya tetap lipak sakbe surak cakdi.

Seiring perjalanan waktu, nilai-nilai sakral dalam Tari Pakarena pun terus beradaptasi dengan perubahan. Dari tari ritual persembahan, ungkapan rasa syukur, hingga kini jadi tari hiburan. Pertanyaannya, masih akan seberapa lama lagi kesakralan dan keanggunan ruh tari Pakerena nan anggun dapat dinikmati dan bertahan, masih dapat terjagakah penanda jejak keunikannya dijagad karya dan kreativitas? Atau inovasi dan renovasi telah mengantarnya dengan pasti ke bentuk antah berantah.

Pakarena Maklino dengan maestro koreograer Adi Ummu Tunru dalam Festival Seni Tradisional Mangkasara yang dilaksanakan di Baruga Komplek benteng Somba Opu pada 29-30 Desember 2003 silam menampilkan empat penari dan diiringi empat pemusik plus seorang penyanyi. Penampilan gadis-gadis penari belia itu terlihat menghasilkan Pakarena yang lebih modem. Namun tetap dalam spirit, kesabaran, kejujuran.

Lalu tanggal 6 Juni 2021 di Hotel Remcy, Makassar dalam elaborasi baru dilakukan kolaborasi kerja penciptaan dari artis seniman tari Dr Nurlina Syahrir.,M.Hum, dengan seniman fotografi berpengalaman Goenawan Monoharto yang dengan sadar berkreasi diluar mainstream. Secara teknis karya yang mereka tampilkan adalah karya yang ditata melampaui kelaziman, tidak lagi semata hanya berfokus pada kemampuan penguasaan teknis atau pun ketarampilan sang artis tetapi kali ini mengolah penciptaan karya mereka yang justru dielaborasi melalui proses perluasan gagasan estetika hasil disukusi intensif fokus melibatkan sejumlah seniman berkompeten di berbagai bidang seni tari, musik. rupa dan teater.

  Kali ini memang...

Aseti Magz Edisi April 22

RAKERDA

DPD Aseti Prov. Banten dalam perjalanannya terus berbenah dan bersinergi dengan pihak-pihak terkait lainnya, hal ini dilakukan untuk menemukan bentuk

Baca »
Aseti Magz Edisi April 22

BISETA

BISETA  ( Bincang Seniman Tari ),  sebuah forum ngobrol santai yang diinisiasi ASETI Yogyakarta bekerjasama dengan Kundha Kabudayan Dinas Kebudayaan

Baca »
No more to show